Rabu, 19 Oktober 2011

laporan pendahuluan NAPZA


LAPORAN PENDAHULUAN
I.       KASUS (MASALAH UTAMA)

Gangguan penggunaan napza


II.    PROSES TERJADINYA MASALAH

Gangguan penggunaan zat adiktif adalah suatu penyimpangan perilaku yang disebabkan oleh penggunaan zat adiktif yang bekerja pada susunan saraf pusat yang mempengaruhi tingkah laku, memori alam perasaan, proses pikir anak dan remaja sehingga mengganggu fungsi social dan pendidikannya. Gangguan penggunaan zat ini terdiri dari : penyalahgunaan dan ketergantungan zat.
Penyalahgunaan zat adiktif adalah suatu pola penggunaan yang bersifat patologis, yang menyebabkan remaja mengalami sakit yang cukup berat dan berbagai macam kesulitan, tetapi tidak mampu menghentikannya. Ketergantungan zat adiktif adalah suatu kondisi cukup berat ditandai dengan adanya ketergantungn fisik yaitu toleransi dan sindroma putus zat.
  1. Rentang respon gangguan penggunaan zat adiktif
Rentang respon ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai dengan yang berat. Indikator dari rentang respon berdasarkan perilaku yang ditampakkanoleh remaja dengangangguan penggunaan zat adiktif.
Respon adaptif                                                                        Respon maladaptive
 

Gambar 1: Rentang respon penggunaan zat adiktif
1.      Penggunaan zat adiktif secara eksperimental ialah:
Kondisi penggunaan pada taraf awal, disebabkan rasa ingin tahu, ingin memiliki pengalaman yang baru, atau sering dikatakan taraf coba- coba.
2.      Penggunaan zat adiktif secara rekreasional ialah:
Menguunakan zat od saat berkumpul bersama-sama dengan teman sebaya, yang bertujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya.
3.      Penggunaan zat adiktif secara situasional ialah:
Orang yang menggunakan zat mempunyai tujuan tertentu secara individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya sendiri, seringkali penggunaan zat ini merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang dihadapinya. Biasanya digunakan pada saat sedang konflik, stress, frustasi.
4.      Penyalahgunaan zat adiktif  ialah:
Penggunaan zat yang sudah bersifat patologis, sudah mulai digunakan secara rutin, paling tidak sudah berlangsung selama 1 bulan, dan terjadi penyimpangan perilaku dan mengganggu fungsi dalam peran di lingkungan social dan pendidikan.
5.      Ketergantungan zat adiktif ialah:
Penggunaan zat yang cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai oleh adanya toleransi dan sindroma putus zat. Yang dimaksud sindroma putus zat adalah suatu kondisi dimana orang yang biasa menggunakan secara rutin, pada dosis tertentu berhenti menggunakan atau menurunkan jumlah zat yang biasa digunakan, sehingga menimbulkan gejala pemutusan zat.

  1. Faktor pendukung
    1. Faktor biologis
a.       Genetic: tendensi keluarga
b.      Infeksi pada organ otak
c.       Penyakit kronis
    1. Faktor psikologis
a.       Gangguan kepribadian: anti sosial (resiko relatif 19,9%)
b.      Harga diri rendah: depresi (resiko relatif: 18,8%), faktor social, ekonomi.
c.       Disfungsi keluarga
d.      Orang/ remaja yang memiliki perasaan tidak aman
e.       Orang/ remaja yang memiliki ketrampilan pemecahan masalah yang menyimpang
f.       Orang/ remaja yang mengalami gangguan idetitas diri, kecenderungan homoseksual, krisis identitas, menggunakan zat untuk menyatakan kejantanannya.
g.      Rasa bermusuhan dengan orang tua
    1. Faktor social cultural
a.       Masyarakat yang ambivalensi tentang penggunaan dan penyalahgunaan zatadiktif: ganja, alkohol
b.      Norma kebudayaan
c.       Adiktif untuk upacara adat
d.      Lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah yang terdapat banyak pengedar (mudah didapat: resiko relatif 80 %)
e.       Persepsi masyarakat terhadap pengunaan zat
f.       Remaja yang lari dari rumah
g.      Remaja dengan perilaku penyimpangan seksual dini
h.      Orang/ remaja yang terkait dengan tindakan kriminal
  1. Stressor presipitasi
    1. Pernyataan untuk mandiri dan dan membutuhkan teman sebaya sebagai pengakuan ( resiko relatif untuk terlibat NAZA: 81,3%)
    2. Sebagai prinsip kesenangan, menghindari sakit/stress
    3. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang berarti
    4. Diasingkan oleh lingkungan: rumah, teman-teman
    5. Kompleksitas dari kehidupan modern
  2. Faktor kontribusi ( resiko relatif 7,9% terlibat penyalah gunaan NAZA)
Seseorang yang berada dalam disfungsi keluarga akan tertekan, dan ketertekanan itu dapat merupakan faktor penyerta bagi dirinya terlibat dalam penyalahgunaan / ketergantungan NAZA, kondisi keluarga yang tidak baik itu adalah :
    1. Keluarga yang tidak utuh : orang tua meninggal, orang tua cerai, dll
    2. Kesibukan orang tua
    3. Hubungan interpersonal dalam keluarga tidak baik
  1. Tingkah laku
    1. Tingkah laku klien pengguna zat sedatif hipnotik
a.       Menurunnya sifat menahan diri
b.      Jalan tidak stabil, koordinasi motorik kurang
c.       Bicara cadel, bertele-tele
d.      Sering datang ke dokter untuk minta resep
e.       Kurang perhatian
f.       Sangat gembira, berdiam, (depresi), dan kadang bersikap bermusuhan
g.      Gangguan dalam daya pertimbangan
h.      Dalam keadaan yang over dosis, kesadaran menurun, koma dan dapat menimbulkan kematian.
i.        Meningkatkan rasa percaya diri
    1. Tingkah laku klien pengguna ganja
a.       Kontrol didi menurun bahkan hilang
b.      Menurunnya motivasi perubahan diri
c.       Ephoria ringan
    1. Tingkah laku klien pengguna alcohol
a.       Sikap bermusuhan
b.      Kadang bersikap murung, berdiam
c.       Kontrol diri menurun
d.      Suara keras, bicara cadel,dan kacau
e.       Agresi
f.       Minum alcohol pagi hari atau tidak kenal waktu
g.      Partisipasi di lingkungan social kurang
h.      Daya pertimbangan menurun
i.        Koordinasi motorik terganggu, akibat cenerung mendapat kecelakaan
j.        Dalam keadaan over dosis, kesadaran menurun bahkan sampai koma.
    1. Tingkah laku klien pengguna opioda
a.       Terkantuk-kantuk
b.      Bicara cadel
c.       Koordinasi motorik terganggu
d.      Acuh terhadap lingkungan, kurang perhatian
e.       Perilaku manipulatif, untuk mendapatkan zat adiktif
f.       Kontrol diri kurang
    1. Tingkah laku klien pengguna kokain
a.       Hiperaktif
b.      Euphoria, agitasi, dan sampai agitasi
c.       Iritabilitas
d.      Halusinasi dan waham
e.       Kewaspadaan yang berlebihan
f.       Sangat tegang
g.      Gelisah, insomnia
h.      Tampak membesar –besarkan sesuatu
i.        Dalam keadaan over dosis: kejang, delirium, dan paranoid
    1. Tingkah laku klien pengguna halusinogen
a.       tingkah laku tidak dapat diramalkan
b.      Tingkah laku merusak diri sendiri
c.       Halusinasi, ilusi
d.      Distorsi (gangguan dalam penilaian, waktu dan jarak)
e.       Sikap merasa diri benar
f.       Kewaspadaan meningkat
g.      Depersonalisasi
h.      Pengalaman yang gaib/ ajaib
  1. Mekanisme koping
Mekanisme pertahanan diri yang biasa digunakan:
    1. denial dari masalah
    2. proyeksi merupakan tingkah laku untuk melepaskan diri dari tanggung jawab
    3. Disosiasi merupakan proses dari penggunaan zat adiktif
  1. Data khusus
    1. jumlah dan kemurnian zat yang digunakan
    2. Sering menggunakan
    3. Metode penggunaan (dirokok, intravena, Oral)
    4. Dosis terakhir digunakan
    5. Cara memperoleh zat (dokter, mencuri, dll)
    6. Dampak bila tidak menggunakan
    7. Jika over dosis, berapa beratnya
    8. Stressor dalam hidupnya
    9. Sistem dukungan (keluarga, social, finansial)
    10. tingkat harga diri klien, persepsi klien terhadap zat adiktif
    11. Tingkah laku manipulatif

III.             POHON MASALAH: 
Resti Menciderai Diri

Intoksikasi                  (CP)

HDR

Gangguan Konsep Diri
Atau
Koping Mal Adaptif

IV.             DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Ancaman kehidupan
a.       Gangguan keseimbangan cairan: mual, muntah berhubungan dengan pemutusan zat opioda
b.      Resiko terhadap amuk berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik
c.       Resiko cidera diri berhubungan dengan intoksikasi aklkohol, sedatif, hipnotik
d.      Panik berhubungan dengan putus zat alkohol
2.      Intoksikasi
a.   Cemas berhubungan dengan intoksikasi ganja
b.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan  intoksikasi sedatif hipnotik, alcohol, opioda
3.      Withdrawl
a.       Perubahan proses piker: waham berhubungan dengan putus zat alcohol, sedatif, hipnotik
b.      Nyeri berhubungan dengan putus zat opioda, MDMA: extasy
c.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan putus zat opioda

4.      Pasca detoksikasi
a.       Gangguan pemusatan perhatian berhubungan dengan dampak penggunaan zat adiktif
b.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak mampu mengenal kualitas yang positif dari diri sendiri.
c.       Resiko melarikan diri berhubungan dengan ketergantungan tehadap zat adiktif

Dari pohon masalah, diagnosa yang mungkin timbul :
1.      Resiko tinggi menciderai diri sendiri berhubungan dengan intoksikasi
2.      Intoksikasi berhubungan dengan menarik diri
3.      Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan konsep diri
4.      Harga diri rendah berhubungan dengan koping mal adaptif

V.                RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Kondisi overdosis
a.       Tujuan : Klien tidak mengalami ancaman kehidupan
Rencana tindakan:
-          Observasi tanda – tanda vital, kesadaran pada 15 menit pada 3 jam pertama, 30 menit pada 3 jam kedua tiap 1 jam pada 24 jam berikutnya
-          Bekerja sama dengan dokter untuk pemberian obat
-          Observasi keseimbangan cairan
-          Menjaga keselamatan diri klien
-          Menemani klien
-          Fiksasi bila perlu
2.      Kondisi intoksikasi
Tujuan: intoksikasi pada klien dapat diatasi, kecemasan berkurang/hilang
Rencana tindakan:
a.       Membentuk hubungan saling percaya
b.      Mengkaji tingkat kecemasan klien
c.       Bicaralah dengan bahasa yang sederhana, singkat mudah dimengerti
d.      Dengarkan klien berbicara
e.       Sering gunakan komunikasi terapeutik
f.       Hindari sikap yang menimbulkan rasa curiga, tepatilah janji, memberi jawaban nyata, tidak berbisik di depan klien, bersikap tegas, hangat dan bersahabat
3.      Kondisi withdrawl
a.       Observasi tanda- tanda kejang
b.      Berikan kompres hangat bila terdapat kejang pada perut
c.       Memberikan perawatan pada klien waham, halusinasi: terutama untuk menuunkan perasaa yang disebabkan masalah ini: takut, curiga, cemas, gembira berlebihan, benarkan persepsi yang salah
d.      Bekerja sama dengan dokter dalam memberikan obat anti nyeri

4.      Kondisi detoksikasi
a.       Melatih konsentrasi: mengadakan kelompok diskusi pagi
b.      Memberikan konselin untuk merubah moral dan spiritual klien selama ini yang menyimpang, ditujukan agar klien menjadi manusia yang bertanggung jawab, sehat mental, rasa bersyukur, dan optimis
c.       Mempersiapkan klien untuk kembali ke masyarakat, dengan bekerja sama dengan pekerja social, psikolog.








Daftar pustaka:
1.      Cokingting, P.S., Darst,E, dan Dancy, B, 1992, Mental Health and Psichiatric Nursing, Philadelpia, J.B.,Lippincott Company, Chapter 8
2.      Shults. Y.M. 1968,Manual of Psichiatric Nursing Care Plans, Boston, Little.Brown and Company, Chapter 20,21,22.
3.      Stuart, G.W.,dan Sundeen, S.J., 1991, Pocket Guide to Psichyatric Nursing, (2nd,ed), St. Louis Mosby Year Book, Chapter 17.
4.      Stuart, Gail W.,1998, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Alih bahasa Yani, Achir, Edisi 3, Jakarta, EGC
5.      Hawari, Dadang.,2003, Penyelahgunaan dan ketergantungan NAZA,FKUI, Jakarta, gaya baru 

intervensi halusinasi

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI

Nama Klien     :                                                                                                                                  
RM. NO          :                                                                                                                                  
tgl
No Dx
Dx Keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
Intervensi
11/6/11
08.30
1
Gangguan persepsi sensori : halusinasi (lihat/dengar/peng hidu/raba/kecap)
TUM : Klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya
Tuk 1 :
Klien dapat membina hubungan saling percaya

















TUK 2:
Klien dapat mengenal halusinanya.


1.      Setelah 1 X interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat :
·         Ekspresi wajah bersahabat
·         Menunjukkan rasa senang.
·         Ada kontak mata.
·         Mau berjabat tangan.
·         Mau menyebutkan nama.
·         Mau menjawab salam.
·         Mau duduk berdampingan dengan perawat.
·         Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi.

2.      Setelah 1 x interaksi klien menyebutkan :
·         Isi
·         Waktu
·         Frekuensi
·         Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi


1.      Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
·         Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
·         Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan.
·         Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
·         Buat kontrak yang jelas.
·         Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi.
·         Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya.
·         Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
·         Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.
·         Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.


            Adakan kontak sering dan singkat bertahap
            Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya (* dengar /lihat/penghidu/raba./kecap), jika menemukan klien yang sedang halusinasi :
·         Tanyakan apakah iklien mengalami sesuatu (halusinasi dengar/ lihat/ penghidu/ raba. Kecap)
·         Jika klien menjawab ya, tanyakan apakah yang sednag dialaminya.
·         Katakan bahwa perawat percaya klien mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalmainya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau menghakimi).
·         Katakan bahwa ada klien lain yang mengalami hal yang sama.
·         Katakan bahwa perawat akan membantu klien.
Jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi. Diskusikan dengan klien :
·         Isi, waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, malam atau sering dan kanga-kadang)
·         Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi.




2.      Setelah 1x interaksi klien menyatakan perasaan dan responnya saat mengalami halusinasi :
·         Marah
·         Takut
·         Sedih
·         Senang
·         Cemas
·         Jengkel
2.3.          Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkap perasaannya.
2.4.          Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut.
2.5.          Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati halusinasinya.



TUK 3 :
Klien dapat mengontrol halusinasinya
3.1.   Setelah 2 x interaksi klien menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya.
3.2.   Setelah 2 x interaksi klien menyebuktn cara baru  mengontrol halusinasi
3.3.   Setelah 2 x interaksi klien dapat memilih dan memperagakan cara mengatasi halusinasi (dengar/ Lihat/ Penghidu/ Raba/ Kecap)











3.4.   Setelah 3 x pertemuan klien menyebutkan manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat serta nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat.








3.5.   Setelah 3 x interaksi klien mendemonstrasikan cara mengontrol halusinasi.

3.1     Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri dll)
3.2     Diskusikan cara yang digunakan klien,
·      Jika cara yang digunakan adaptif beri pujian.
·      Jika cara yang digunakan maladaptif diskusikan kerugian cara tersebut.
3.3     Diskusikan cara baru untuk memutus mengontrol timbulnya halusinasi :
·         Katakan pad adiri sendiri bahwa ini tidak nyata (saya tidak mau dengar/ lihat/ penghidu/ raba/ kecap pada saat halusinasi terjadi)
·         Menemui orang lain (perawat/teman / anggota keluarga) untuk menceritakan tentang halusinasinya.
·         Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari-hari yang elah disusun.
·         Meminta keluarga/ taman/ perawat menyapa jika sedang berhalusinasi.
3.4.1Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.
3.4.2 Lakukan pemeriksaan tanda – tanda vital klien
3.4.3 Pantau klien saat penggunaan obat
3.4.4  Beri pujian  jika klien menggunakan obat dengan benar
3.4.5 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
3.4.6 Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diiginkan.


3.5.1 Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk mencobanya.
3.5.1 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih
3.5.1 Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri pujian



TUK 4 :
Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
4.1.   Setelah 1 x pertemuan keluarga, keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat.
4.2.   Setelah 1 x interaksi keluarga menyebutkan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi

4.1           Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan (waktu , tempat dan topik)
4.2           Diskusikan dengan keluarga (pada saat pertemuan keluarga/ kunjungan rumah)
·         Pengertian halusinasi
·         Tanda dan gejala halusinasi
·         Proses terjadinya halusinasi
·         Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi
·         Obat –obatan halusinasi
·         Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di umah (beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama, memantau aobat-obatan dan cara pemberiannya untuk mengatasi halusinasi)
·         Beri informasi waktu kontrol ke rumah sakit dan bagaimana cara mencari bantuan jika halusinasi tidak dapat diatasi di rumah.





5.1. Setelah 1 x pertemuan klien mengikuti terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi atau orientasi realitas.
5.1 Anjurkan klien mengikuti TAK stimulasi persepsi sesi 1: menonton TV
5.2 Anjurkan klien mengikuti Tak simulasi persepsi Sesi 2: membaca majalah, koran
5.3 Anjurkan klien mengikuti Tak stimulasi persepsi sesi 3: Gambar


Keterangan :
·         Halusinasi dengar : bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang kekanan/kekiri/ kedepan seolah-olah ada teman bicara
·         Halusinasi lihat : menyatakan melihat sesuatu, terlihat ketakutan
·         Halusinasi penghidu : menyatakan mencium sesuatu, terlihat mengendus
·         Halusinasi raba : menyatakan merasa sesuatu berjalan di kulitnya, menggosok=-gosok tangan/kaki/wajah dll
·         Halusinasi kecap : menyatakan terasa sesuatu di lidahnya, sering mengulum lidah



Rabu, 05 Januari 2011

latihan menginfus teman sendiri

belajar kruk

[+/-]

laporan pendahuluan NAPZA

[+/-]

intervensi halusinasi

[+/-]

latihan menginfus teman sendiri

[+/-]

belajar kruk